Friday, September 16, 2011

HOW to Write QUALITY HAIKU /
Menulis HAIKU Yg BERKWALITAS

by Wahyu W. Basjir
translate by Pinondang Situmeang


To value about Haiku quality and other genre such as tanka, haibun renku etc in Haikai, for me is difficult to make any unanimous judgment. Question about Haiku quality similar with a question: "why some one show thumb up in a Face book status, but others  thumb it down".

In case if I like a Haiku or not in this group for instance, not always said that my judgment  using a special  standard. Depend on, as long as touch my heart, might be I would say that I like it. That is why a quality posts not always got thumb up from me. On the contrary, a post who got my thumb up, is not always good. 

There are many perception and reception when reading Haiku, where everybody has the right to interpreted and judged  in their own version. So, when a Haiku see it from a personal and subjective perspective,  then an ordinal evaluation of good or not become debatable.

Actually, most of the time I try not to judged Haiku with personal standard, at least try to reduced personal  standard judgment. In this case, I surely to say that saw thumb up and like in a posting in this group is different with judgement.

As a Haiku  student, I try to absorb soft aspect of Haiku through various standards, aspects, criteria and types of this genre. From my understanding in a short period of learning, aspects, criteria and Haiku form had a deep roots of certain aesthetic  value.

From many sources I could reach so far, below are the aspects that I know very important for us who want to swim deep down, live up the soul and finding the beauty of Haiku

                      simple
                                                  Asymmetric
 

  1. KANSO mean simple. In Haiku, many things written as it is, original without a tendency of  over joy. The beauty of Haiku saw in a clarity formed by uncover essential things.

  1.                     Nature

2.FUKINSEI  mean asymmetric . Spirit of Haiku saw that energy and movement in this world originally coming from asymmetric relationship. Unbalancing, imperfection accepted as a part of universe and every existence.
Haiku, therefore didn’t  force  ideal perfection.  Haiku  have a room for  imperfection for freedom and flexible in thinking.This way is one form of participatory, to open up possibilities of freedom and engagement . 

3. SHIBUMI means the beauty of the tiny things often assumed as less valuable then its reality. Shibumi as a factor of  aesthetic – especially text – Haiku not talking about significance  with huge magnitude.

Lets say that Haiku not talking about heroism, overly love or complex narration without elaboration and explanation. This aesthetic value clarify that the beauty of Haiku is in the form of simpleness  and  short.

4.SHIZE mean  real  nature; without  make over pretension, spontaneously. In simple way, this esthetic  value just about honesty. Haiku, therefore not make it over but more spontaneously and natural.
Natural and spontaneous Haiku usually written after a writer realized himself being between significant of the moments, actually in a common moments.

5.YUGEN mean deep knowledge or suggestion/imagination formed by open understanding not by vulgar expression. Linking between simpleness and deepness, Haiku talking more than what had been written in a text. A more simple one, a more deep will be  and more things to tell  by a Haiku

6. DATSUZOKU mean free from (routine matters, repeated and cliché. In this esthetic will born  a Haiku in surprise, unexpected.

7. SEIJAKU mean shadow peaceful environment , loneliness alive. Haiku writers, imagination show up in wording language and simple sentence not exaggerate without explode emotion of the writers.

As a student who raise in different tradition as told above, I never feel easy in writing Haiku. The most challenge I faced so far not in words and sentence choices. The most challenges are to force my emotion down driving inside me, ego and tendency to force a single interpretation  of a Haiku I had written.
                                                Peacefull/loneliness

    When succeeded to conquer  that challenge  I don’t think anymore about the beauty. In the contrary, I feel happy in every breath taking, heart beating and blood flowing who flood in the artery of my body. 


    Original in Indonesia language :
     
    Dirangkum dari berbagai sumber, catatan ini saya buat sebagai respon terhadap thread yang dibuat Mas Hendragunawan S. Thayf berdasar pertanyaan Mbak Rike Jokanan, mengenai kualitas haiku dan genre lain yang dikenal dalam haikai (tanka, haibun, renku, dsb.).
    Saya tidak bermaksud menjawab pertanyaan itu melainkan membuka ruang diskusi yang lebih leluasa agar kita bisa belajar bersama-sama.

    Karenanya, jika mengharapkan tips atau kiat menulis haiku yang bagus dan berkualitas dari catatan ini, teman-teman saya persilakan ambil waktu secukupnya untuk kecewa. Catatan ini tidak akan mampu memenuhi sekelumitpun harapan itu. Jika rasa kecewa teman-teman terlalu besar untuk dikalahkan, saya sarankan untuk tidak usah membaca catatan ini.

    Bisa jadi, tulisan ini hanya akan bermanfaat jika teman-teman bersedia melakukan sedikit kontemplasi, berdiskusi dan membagi pengalaman haiku dengan grup ini.
    ::
    Penilaian kualitas haiku dan genre lain dalam haikai, menurut hemat saya, sulit menghasilkan sebuah judgement yang bersifat unanimous. Boleh jadi, pertanyaan mengenai kualitas haiku mirip dengan pertanyaan mengapa seseorang memberi jempol untuk sebuah status di Fesbuk yang mungkin dianggap norak oleh orang lain.

    Dalam hal suka atau tidak suka terhadap sebuah post di grup ini, saya tidak selalu menyatakan sikap berdasar ukuran-ukuran tertentu. Sejauh post itu membuat saya touched, saya bisa saja suka.
    Karenanya, sebuah post yang bagus, tidak selalu mendapatkan tanda jempol dari saya. Sementara post yang mendapat jempol tidak selalu berarti bagus.

    Ada beragam persepsi dan resepsi pada saat membaca haiku yang membuat masing-masing orang berhak atas interpretasi dan penilaian menurut versinya sendiri. Jadi, ketika sebuah haiku dilihat dari kacamata yang personal dan subjektif, penilaian yang bersifat ordinal dalam rentang jelek-bagus menjadi mudah diperdebatkan.

    Saya sendiri sebenarnya sering menghindari menilai haiku berdasar ukuran-ukuran yang bersifat personal. Paling tidak, saya berusaha mengurangi aspek-aspek personal itu agar saya bisa lebih mudah mempertanggungjawabkan ukuran-ukuran yang saya gunakan.
    Di sinilah saya bisa mengataan bahwa hal ini jauh berbeda dari menyatakan suka atau memberi jempol kepada satu post di grup ini.

    Sebagai seorang pelajar haiku, saya berusaha untuk menangkap aspek yang paling lembut dari haiku melalui berbagai ukuran, ciri, watak dan bentuk genre ini. Sependek pemahaman dari masa belajar yang belum seberapa panjang, ciri, watak dan bentuk haiku memiliki akar pada nilai-nilai estetis tertentu

    Dirangkai dari sumber-sumber yang bisa saya jangkau, berikut adalah aspek-aspek yang menurut saya penting bagi kita yang ingin menyelami, menghidupkan ruh dan menemukan keindahan haiku.



    Kanso (簡素), atau kesederhanaan. Dalam haiku, banyak hal ditulis secara apa adanya, asli, murni, tanpa tendensi untuk bermegah-megah. Keindahan haiku ada pada clarity yang terbentuk karena pengungkapan hanya hal-hal yang esensial.



    Fukinsei (不均整), atau asimetri. Spirit haiku melihat bahwa energi dan gerak di dunia ini berasal dari hubungan-hubungan yang asimetris. Ketidakseimbangan, juga ketidaksempurnaan, diterima sebagai bagian dari alam dan setiap eksistensi.

    Haiku, karenanya, tidak memaksakan sebuah ideal yang paripurna. Ia menempatkan ketidaksempurnaan sebagai ruang bagi kebebasan dan keleluasaan berfikir.


    Ini adalah salah satu bentuk keindahan partisipatoris, yang memberikan kemungkinan terjadinya pembebasan sekaligus pelibatan, engagement.



    Shibumi (渋味) bermakna keindahan dari hal-hal kecil dan kerap dianggap kurang bernilai daripada yang sesungguhnya. Shibumi sebagai unsur estetika membuat –terutama teks—pada haiku tidak berbicara mengenai hal-hal yang signifikan dengan spektrum masalah yang luas.


    Katakanlah, haiku tidak berbicara tentang heroisme, cinta menyala-nyala, atau narasi yang terlalu rumit jika tidak diurai dan dielaborasi. Nilai estetika ini menjelaskan bahwa keindahan haiku ada pada bentuknya yang ringkas dan sederhana.


    Shizen (自然) atau keaslian alamiah; tanpa pretensi yang dibuat-buat, spontan. Secara sederhana, nilai estetika ini tentang kejujuran belaka. Haiku, dengan demikian tidak dibuat-buat melainkan lebih bersifat spontan dan natural.

    Haiku yang natural dan spontan biasanya ditulis setelah penyair mendapati dirinya ada di antara momen signifikan dari peristiwa-peristiwa yang sebenarnya sangat biasa.

     
    Yugen (幽玄) memiliki konotasi kedalaman wawasan atau sugesti/imaji yang terbentuk oleh tafsir terbuka, bukan oleh pengungkapan yang vulgar.
    Dari pertautan antara kesederhanaan dan kedalaman ini, haiku berbicara lebih banyak daripada yang tertulis sebagai teks. Semakin sederhana, semakin dalam ia, dan semakin banyak pula yang dapat diutarakan oleh sebuah haiku.


    Datsuzoku (脱俗) berkonotasi kebebasan dari hal-hal yang bersifat rutin, pengulangan-pengulangan dan klise. Estetika ini yang melahirkan haiku dengan unsur-unsur kejutan, tidak terduga.


    Seijaku (静寂) atau keteduhan, ketenangan yang damai, sunyi yang hidup. Pada penulisan haiku, imaji dihadirkan dengan bahasa kata-kata dan kalimat yang sederhana, tidak menggebu-gebu, tanpa ledakan emosi penulisnya.


    Sebagai pelajar yang tidak dibesarkan dalam tradisi dan estetika semacam itu, saya tidak pernah merasa mudah dalam menulis haiku. Tantangan terbesar yang saya hadapi bukan pada pilihan kata atau kalimat.

    Kesulitan terbesar yang saya hadapi adalah mengalahkan dorongan dari dalam diri saya berupa emosi, ego, atau kecenderungan untuk memaksakan tafsir yang tunggal bagi haiku yang saya tulis.


    Ketika saya merasa berhasil menaklukkan tantangan itu, saya tidak berfikir tentang keindahan. Sebaliknya, saya hanya lega dan bahagia untuk setiap helaan nafas, detak jantung dan aliran darah yang merayapi pembuluh di tubuh saya.

    Salam,
    Wahyu W. Basjir

    0 Comments:

    Post a Comment



    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
     

    FREE HOT VIDEO | HOT GIRL GALERRY